MUSNAH
Sebuah tragedi besar telah terjadi.
Pertempuran antar suku tak dapat dihindari. Banyak pendekar gugur, bahkan
pendekar terkuat sekalipun memilih untuk mengakhiri hidupnya setelah
meluluhlantahkan semua tanpa sisa. Ia terbaring dengan binar mata penuh
penyesalan, namun itulah pilihan. Di setiap pilihan terdapat konsekuensi yang
mengiringi.
Usai pertempuran, aroma anyir memenuhi ruang
semesta. Permukaan bak lautan darah. Hening, tak ada lagi tanda-tanda
kehidupan, hanya puluhan juta jasad yang terbaring berserakan. Udara masih
tetap berhembus membawa kabar duka dunia yang entah siapa yang akan
menerimanya. Langit sendu menjadi saksi pertempuran pilu.
Detik demi detik berlalu, jam berganti hari,
jasad semakin membusuk mengundang para predator. Setelah satu bulan berlalu,
kawanan predator agaknya mulai enggan dan meninggalkan jasad bergelimpangan. Tinggallah
hewan kecil lunak menyerbu jasad yang hampir tinggal tulang belulang.
Tulang-tulang berserakan. Tidak lagi dikenal
identitas pemiliknya. Semua tampak sama. Dunia masih tetap hening mengenang
luka lara dan derita. Penghuninya telah sirna, menunggu penghuni baru yang
entah kapan tiba. Jika semesta bisa bicara, akan diceritakan pada penghuni
berikutnya.
Pohon yang tadinya ikut tumbang akibat sengitnya
pertempuran, kini mulai tumbuh tunas baru. Inikah harapan akan adanya kehidupan
baru di masa mendatang? Sampai detik ini, tidak ada manusia satupun. Sepertinya
semua tak tersisa, darimana akan ada generasi berikutnya jika semua manusia
telah sirna? Dunia hanya akan dihuni oleh flora dan fauna.
***
Komentar
Posting Komentar