Siput Sang Juara
Part 2
Panitia lomba bersiap untuk memberi
aba-aba. Papan angka telah dikibarkan dari atas tebing, mulai dari angka tiga,
dua, hingga satu dan mulai. Dengan penuh semangat dan sekuat tenaga siput mulai
memanjat, sementara hewan lain masih di tempat. Mereka mulai kepanasan dan
bertanya-tanya kapan lomba akan dimulai. Ternyata mereka tidak dapat melihat
papan angka dengan jelas tersebab sinar matahari yang menyilaukan. Melihat
hanya siput yang memanjat, para panitia pun mencari tahu sebab atlet lain tidak
mulai memanjat. Menyadari akar penyebabnya, salah satu panitia mengambil peluit
dan menyembunyikannya. Usai peluit dibunyikan, para atlet menunjukkan
ketangkasan memanjat.
Gemuruh suara penonton bersorak ria.
“Ayooo, kejar siiput kerdil itu!”. Dalam hitungan detik, siput telah disalip
oleh peserta lomba yang lain. “lihatlah itu, si kerdil telah disalip. Sekarang
ia berada di urutan terbawah”. “Sudahlah siput, turun saja. Tak perlu kau
permalukan dirim. Tidur santai saja di rumah menikmati terangnya mentari”.
“hahahaha”, lagi-lagi penonton menertawakan siput.
Perolehan sementara Beruang menempati posisi pertama, diikuti oleh Tupai dan Kucing. Beruang hampir saja menjadi juara, namun ia terpeleset sebab tumpuan kakinya tidak cukup kuat menahan berat badannya. Ia jatuh ke bawah. Hal yang sama juga terjadi pada peserta lainnya. Panitia memang memasang satu tumpuan yang rusak dan peserta harus pandai-pandai memilih tumpuan mana yang harus dipijak. Kini tinggallah siput seorang diri yang terus memanjat, hingga akhirnya ia sampai di garis finish. Ia pencetak rekor sebagai juara panjat tebing kelas dunia mengalahkan para pemanjat kelas kakap.
Komentar
Posting Komentar